Kecerdasan Berganda pada Penderita Autisme

Kecerdasan Berganda pada Penderita Autisme

Devi Ari Mariani

Staf Pengajar Program Studi Bimbingan Koseling

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Metro

PENDAHULUAN

Saat ini autis menjadi fenomena karena makin banyak anak-anak yang mengalaminya. Kalau dulu pada tahun 1970-an anak-anak yang mengalami autis hanya 1:10.000 kelahiran, kini tercatat 1:150 kelahiran. Sebuah peningkatan yang sangat mencolok, walau penyebabnya belum diketahui pasti (Kompas, 16 April 2006). Dan mulai tahun 1990-an, terjadi boom autisme ( Kompas, 7 Juni 2008).

Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis, adalah perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Banyak spekulasi yang beredar, baik di media massa ataupun internet, tentang penyebab ini. Misalnya anak menjadi autis karena ibunya saat hamil mengonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi merkuri, atau gara-gara imunisasi dengan vaksin yang mengandung timerosal. Namun, semua itu belum bisa dibuktikan kebenarannya, dan berkaitan dengan isu ini, Menteri Kesehetan, Dr. Siti Fadilla Supari belum mau memberikan komentarnya ( Kompas, 7 Juni 2008). Pada harian Kompas (27 Oktober 2004) memuat bahwa pencemaran udara dan air yang terus meningkat dari tahun ke tahun telah menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan hidup secara umum dan kesehatan masyarakat. Salah satu dampak negatif dari tingginya pencemaran udara adalah meningkatnya kasus autis dan terjadinya hujan asam di beberapa daerah.

AUTISME

Pengertian

Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri “Isme” yang berarti suatu aliran.  Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. autisme adalah suatu keadaan dimana anak berbuat semaunya sendiri, baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini biasanya mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun.

autisme bukanlah suatu gejala penyakit tetapi lebih merupakan sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangansosial, kemampuan bernahasa, dan kepedulian terhadap sekitar, sehingga anak autisme hidup dalam dunianya sendiri dengan kata lain, pada anak autisme terjadi gangguan emosi, intelektual, dan kemauan (gangguan pervasif). Oleh karena itu kumpulan sindroma autisme ini sering disebut Autistik Sydrome Disorder (autisme). autisme adalah suatu perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autisme infantil gejalanya sudah ada sejak lahir. Gejala bervariasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur, in, intelegensia, pengaruh obat, dan beberapa kebiasaan pribadi lainnya

Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (savant) Anak penyandang autisme mempunyai masalah/  dalam bidang : Komunikasi, interaksi sosial, sensoris, pola bermain, perilaku, dan emosi

Pada pemeriksaan status mental, ditmukan kurangnya orientasi lingkungan, rendahnya ingatan, meskipun terhadap kejadian yang baru, dengan demikian kepedulian terhadap sekitar sangat kurang. Anak autisme biasanya berbicara cepat-cepat tapi tanpa arti, bahkan terkadang juga diikuti dengan suara yang tidak jelas. Kebanyakan intelegensia anak dengan autisme ini rendah (Yatim, 2003). Namundemikian 20% dari anak autisme masih mempunyai IQ>70.

Autisme menimpa seluruh bangsa, ras, serta tingkatan sosial. Hanya sering terdapat pada anak laki-laki (Kaplan&Sadock, 1998), bisa sampai 3-4 kali dibanding anak perempuan, mungkin ada hubungannya dengan genetik. Sebagian besar penderita autisme biasanya mengalami gangguan brbahasa.

Penyebab

Penyebab autis sejauh ini belum diketahui dengan pasti, namun diduga kuat berkaitan dengan faktor keturunan, khususnya hubungan antara ibu dan janin selama masa kehamilan. Namun terjadinya kasus autisme, tentu saja merupakan disebabkan mutifaktor. Pada mulanya dulu di tahun 1940-an dr. Leo Kanner pernah melaporkan temuannya bahwa orang tua dari anak yang autisme ternyata kurang memiliki kehangatan dalam membesarkan anaknya. Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan penting pada terjadinya autisme. Bayi kembar satu telur akan mengalami autisme yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besar mengalami yang sama. Selain itu pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes; jamur; nutrisi yang buruk; perdarahan; keracunan makanan, dsb pada kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi.

Akhir-akhir ini dari penelitian terungkap juga hubungan antara pencernaan dan gejala autisme. Ternyata lebih dari 60 % penyandang autisme ini mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebut berupa susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) yang tidak tercerna dengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadi asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino yang seharusnya dibuang lewat urine. Ternyata pada penyandang autisme, peptida ini diserap kembali oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk ke otak dan dirubah oleh reseptor opioid menjadi morphin yaitu casomorphin dan gliadorphin, yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi otak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif, reseptif, atensi dan perilaku. Pendapat yang sudah menjadi konsensus bersama para ahli belakangan ini memang mengakui bahwa autisme merupakan akibat adanya fungsi luhur dalam otak.

Perkembangan terbaru, di du


Karakteristik dan Diagnosis

Menurut buku Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition (DSM-IV), autis dapat ditandai dengan tiga gejala utama, yaitu interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. perilaku dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, serta kesulitan dalam bahasa.

autis pada anak-anak memperlihatkan ketidakmampuan anak tersebut untuk berhubungan dengan orang lain atau bersikap acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya. Mereka seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri, bermain sendiri, dan tidak mau berkumpul dengan orang lain. Namun, anak autis biasanya memiliki kelebihan atau keahlian tertentu, seperti pintar menggambar, berhitung atau matematika, musik, dan lain-lain.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentangautisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untukautisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).

1. Kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.

Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :

o Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju

o Tidak bisa bermain dengan teman sebaya

o Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)

o Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik

2. Kualitatif dalam bidang komunikasi.

Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

o Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal

o Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi

o Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang

o Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru

3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.

Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

o Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan

o Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya

o Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang

o Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda

TEORI MULTIPLE INTELLIGENCE HOWARD GARDNER

Gardner mengemukakan bahwa pandangan klasik percaya bahwa inteligensi merupakan kapasitas kesatuan dari penalaran logis, dimana kemampuan abstraksi sangat bernilai. Pandangan ini berdasar pada teori general (g) intelligence dari Spearman yang menganggap inteligensi sebagai kekuatan mental yang yang timbul selalma aktifitas intelektual dan dapat digambarkan dalam berbagai tingkatan. Sama dengan Thurstone dan beberapa ahli psikometri lain Gardner melihat bahwa inteligensi merupakan meliputi beberapa kemampuan mental. Namun demikian psikolog Universitas Harvard tersebut tidak terlalu terlalu peduli dengan bagaimana menjelaskan dan menuangkannya dalam skor tes psikometri yang bersifat lintas budaya.

Inteligensi, menurut Gardner, merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dalam situasi budaya atau komunitas tertentu, yang terdiri dari tujuh macam inteligensi. Meskipun demikian, Gardner menyatakan bahwa jumlah tersebut bisa lebih atau kurang, tapi jelas bukan hanya satu kapasitas metal. Pertanyaan tentang kenapa individu memilih berada dalan peran-peran yang berbeda (ahli fisika,petani, penari), memerlukan kerja berbagai kecerdasan sebagai suatu kombinasi, dalam penjelasannya.

Teori Gardner berdasar pada sintesa berbagai macam bukti dari sumber-sumber yang berbeda :

1. Studi terhadap orang normal yang mengalami kerusakan otak karena trauma atau stroke, yang mendukung pendapat tentang inteligensi terpisah yang mengatur pemikiran spasial dan bahasa.

2. Dukungan profil intelektual dari populasi-populasi khusus, seperti prodigies dan idiot savants, yang mengindikasikan bahwa inteligensi merupakan kemampuan-kemampuan yang terpisah.

3. Bukti dari mekanisme pemprosesan informasi.

4. Dukungan dari psikologi eksperimental dan psikologi kognitif

5. Penemuan-penemuan psikometris.

6. Arah perkembangan karakteristik dari manifestasi umum dan mendasar, menuju kondisi akhir berupa keahlian yang memungkinkan.

7. Penemuan dalam bidang biologi evolusioner.

8. Dukungan dari konsep-konsep yang ada pada sistem simbol.

Gardner menekankan dalam jenis inteligensinya bahwa inteligensi hanya merupakan konstrak ilmiah yang secara potensial berguna. Jenis-jenis inteligensi Gardner :

A. Kecerdasan spasial, merupakan kecerdasan seseorang yang berdasar pada kemampuan menangkap informasi visual atau spasial, mentransformasidan meodifikasinya, dan membentuk kembali gambaran visual tanpa stimulus fisik yang asli. Kecerdasan ini tidak tergantung sensasi visual. Kemampuan pokoknya adalah kemampuan untuk membentuk gambaran tiga dimensi dan untuk menggerakkan atau memutar gambaran tersebut. Individu yang dominan memiliki kecerdasan tersebut cenderung berpikir dalam pola-pola yang berbentuk gambar. Mereka sangat menyukai bentuk-bentuk peta, bagan, gambar, video ataupun film sebagai media yang efektif dalam berbagai kegiatan hidup sehari-hari.

B. Kecerdasan bahasa, merupakan kecerdasan individu dengan dasar penggunaan kata-kata dan atau bahasa. Meliputi mekanisme yang berkaitan dengan fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Mereka yang memiliki kecerdasan tersebut, mempunyai kecakapan tinggi dalam merespon dan belajar dengan suara dan makna dari bahasa yang digunakan. Pada umumnya merupakan ahli yang berbicara di depan public. Mereka lebih bisa berpikir dalam bentuk kata-kata daripada gambar. Kecerdasan ini merupakan aset berharga bagi jurnalis, pengacara, pencipta iklan.

C. Kecerdasan logis matematis. Kecerdasan tersebut mendasarkan diri pada kemampuan penggunaan penalaran, logika dan angka-angka matematis. Pola pikir yang berkembang melalui kecerdasan ini adalah kemampuan konseptual dalam kerangka logika dan angka yang digunakan untuk membuat hubungan antara berbagai informasi, secara bermakna. Kecerdasan ini diperlukan oleh ahli matematika, pemrogram komputer, analis keuangan, akuntan, insinyur danilmuwan.

D. Kecerdasan jasmani kinestetik. Kemampuan untuk mengendalikan gerakan tubuh dan memainkan benda-benda secara canggih, merupakan bentuk nyata dari kecerdasan tersebut. Individu akan cenderung mengekspresikan diri melalui gerak-gerakan tubuh, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu melakukan berbagai maneuver fisik dengan cerdik. Melaui gerakan tubuh pula individu dapat berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya, mengingat dan memproses setiap informasi yang diterimanya. Kecerdasan ini dapat terlihat pada koreografer, penari, pemanjat tebing.

E. Kecerdasan musikal. memungkinkan individu menciptakan, mengkomunikasikan dan memahami makna yang dihasilkan oleh suara.. Komponen inti dalam pemprosesan informasi meliputi pitch, ritme dan timbre. Terlihat pada komposer, konduktor, teknisi audio, mereka yang kompeten pada musik instrumentalia dan akustik.

F. Kecerdasan interpersonal, merupakan kecerdasan dalam berhubungan dan memahami orang lain di luar dirinya. Kecerdasan tersebut menuntun individu untuk melihat berbagai fenomena dari sudut pandang orang lain, agar dapat memahami bagaimana mereka melihat dan merasakan. Sehingga terbentuk kemampuan yang bagus dalam mengorganisasikan orang, menjalin kerjasama dengan orang lain ataupun menjaga kesatuan suatu kelompok. Kemampuan tersebut ditunjang dengan bahasa verbal dan non-verbal untuk membuka saluran komunikasi dengan orang lain.

G. Kecerdasan intrapersonal, tergantung pada proses dasar yang memungkinkan individu untuk mengklasifikasikan dengan tepat perasaan-perasaan mereka, misalnya membedakan sakit dan senang dan bertingkah laku tepat sesuai pembedaan tersebut. Kecerdasan ini memungkinkan individu untuk membangun model mental mereka yang akurat, dan menggambarkan beberapa model untuk membuat keputusan yang baik dalam hidup mereka.

BENTUK-BENTUK MULTIPLE INTELLIGENCE PADA ANAK AUTISME

Anak autisme memiliki kemampuan yang berdeferensiasi, begitupula yang terlihat pada kecerdasan majemuknya. Jika kita melihat dengan kacamata kecerdesan majemuk yang dikemukakan Gardner diatas, kita bisa melihat juga kecerdasan majemuk ada pada penderita autis, tapi dalam taraf atau tingkat yang berbeda yang ditunjukkan dengan perilaku/karakteristikciri yang berbeda pula tapi tetap itu merupakan gambaran bahwa penderita autis sebagai manusia yang terus berkembang dari waktu ke waktu juga memilikinya. Adapun bentuk-bentuk kecerdasan majemuk yang dapat kita lihat pada penderita autis yang juga nantinya dapat dijadikan dasar pengembangannya sehingga nantinya penderita autis di masa depan tidak selalu harus tergantung dengan orang-orang disekitarnya, yaitu antara lain :

1. Kecerdasan Logis-Matematis

a. Belajar menggunakan simbol

b. Mengikuti pola berurutan

c. Pandai bermain video game

d. Mempreteli benda dan kadang mampu merakitnya kembali

e. Menyukai peraturan dan organisasi

f. Menggunakan penalaran hitam-putih

g. Memiliki perasaan kuat tentang salah dan benar

h. Menyukai rutinitas

i. Menyelesaikan masalah dengan satu cara

j. Mampu mengingat fakta dengan baik

2. Kecerdasan Bahasa

a. Mampu menirukan-termasuk echolia

b. Dapat mengingat kata dan frase meski tanpa memahami artinya

c. Mempunyai kosakata yang luas untuk anak seusianya dan juga dalam taraf memiliki autisme

d. Nada bicara teratur dan menarik

e. Dapat menggunakan suara phonic untuk mengartikan atau membaca suatu suku kata

f. Dapat menggunakan gambar atau ikon dengan baik untuk berkomunikasi

g. Berbicara seperti orang dewasa

3. Kecerdasan Intrapersonal dan interpersonal

a. Tertarik pada detail impersonal pada orang lain, seperti nomor telfon, berat badan, warna rambut dan sebagainya

b. Menggunakan frasa baku dalam situasi-situasi sosial

c. Menyukai segala macam kegiatan sosial dengan urutan yang jelas, seperti berbelanja

d. Lebih menyukai kontak non manusia selama acara sosial

e. Mandiri diusia yang muda

f. Melihat orang lebih sebagai objek, penghalang, atau pendukung daripada sebagai teman

4. Kecerdasan Visual-Spasial

a. Ketertarikan kuat untuk memperhatikan elemen-elemen manusia

b. Mudah terganggu oleh yang bersifat visual

c. Menjawab tanpa melihat atau seolah tidak memperhatikan

d. Lebih melihat hubungan visual daripada hubungan sosial antara orang, kata, lokasi, maupun benda

e. Mengingat lokasi geografis dengan sangat baik, tidak mudah tersesat

f. Pandai bermain teka-teki puzzle, maze, dan gambar 3 dimensi

5. Kecerdasan Musical

a. Terpesona dengan kualitas dan pola musik, video, tontonan di tv, lagi iklan

b. Ketika mendengar alunan musik, dia lebih memperhatikan dan bekerja sama dengan lebih baik

c. Kemampuan berbicara ketika menggunakan musik

d. Dapat mengulang dengan mudah untuk komposisi atau instrumen musik tertentu

e. Memiliki asosiasi yang kuat antara kata dan melodi

f. Kadang ketika berbicara seperti menyanyi

6. Kecerdasan Jasmani-Sentuhan-Kinestetik

a. Bergerak dengan mudah-cekatan-seimbang- terkoordinasi

b. Sering berkeliaran, jarang duduk dikursinya, memanjat dan melompat

c. Senang membaui, menyentuh, dan merasakan apapun termasuk benda yang seharusnya tidak diganggu

d. Mmiliki kesenangan dan kebencian yang sangat pada makanan tertentu

e. Memiliki gerak, tindak-tanduk dan posisi tuang yang jelas

f. Memiliki kesenangan dan kebencian yang sangat terhadap sesuatu yang disentuh

g. Terlalu banyak mencari rangsangan sensorik dan seringkali dengan tata cara yang tidak baik

h. Mengulum dan mengunyah sesuatu

i. Lebih suka menggunakan tubuhnya daripada kata-kata

j. Sering tertekan dan bingung oleh karena banyaknya pengalaman sensorik (yang jelas maupun yang tidak)

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN ANAK AUTISME

Tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti yang juga terjadi pada anak normal biasa. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran itu antara lain : Berat – ringannya kelainan/gejala, usia pada saat diagnosis, tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa, tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak, kecerdasan/IQ, kesehatan dan kestabilan emosi anak, dan juga terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru, kurikulum, metode, sarana pendidikan, lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat).

Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran untuk anak dengan autis terkadang mengabaikan diferensiasi kemampuan yang dimiliki tiap individu. Padahal anak dengan autis memiliki kemampuan dan ketidakmampuan khusus yang banyak tidak diperhatikan dalam kurikulum di negara kita. Ini seringkali terjadi pada pendidikan mainstream. Belajar dan pembelajaran bagi anak autisme sebaiknya dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar, yaitu :

1.   Kemampuan dasar kognitif

2.   Kemampuan dasar bahasa/Komunikasi

3.   Kemampuan dasar sensomotorik

4.   Kemampuan dasar bina diri, dan

5.   Sosialisasi.

Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/ kalendernya, maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik, meliputi kemampuan : membaca, menulis, dan matematika (berhitung).

Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa (anak autisme) yang belajar dan guru pembimbing yang mengajar. Dalam upaya membelajarkan anak autisme tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak autisme harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak autisme pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak autisme.

Prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran individu dengan autisme

Pendidikan dan pengajaran anak autisme pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Terstruktur

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autisme diterapkan prinsip terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya.

Sebagai contoh, untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola”. dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autisme meliputi :Struktur waktu, Struktur ruang, dan Struktur kegiatan

b.  Terpola

Kegiatan anak autisme biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang, dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebih mudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behavior therapi).

c.  Terprogram

Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitan erat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak, sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target program yang kedua, demikian pula selanjutnya.

d.  Konsisten

Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autisme, prinsip konsistensi mutlak diperlukan.  Artinya : apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement) Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya.

Konsisten memiliki arti “Tetap”, bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi guru pembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu anak autisme. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalam pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan dirumah.

e. Berkelanjutan

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autisme sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan dan pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autisme. Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak.

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN UNTUK MENGOPTIMALKAN MULTIPLE INTELLIGENCE PADA ANAK AUTISME

Prinsip pendidikan pada anak dengan autisme bukanlah menjadikan anak tersebut sebaik mungkin atau senormal mungkin dimata masyarakat, atau agar tidak dianggap sebagai anak dengan banyak ”kekurangan”. Tapi paradigma tersebut haruslah diubah agar pendidikan untuk anak autisme dapat berguna untuk masa depannya dengan mengoptimalkan kemampuan-kemampuan serta potensi-potensi yang mereka miliki dengan mengikuti “jalur” yang mereka miliki tapi bukan tanpa suatu tujuan. Misalnya dengan potensi dan kemampuan yang siswa tersebut perlihatkan dengan ketertarikannya untuk melakukan rutinitas menyiram dan sedikit menggosok motor seorang pengajar ketika waktu istirahat, maka pengajar dapat melatih anak tersebut untuk dapat melakukan cuci motor dengan baik dengan tujuan nantinya anak tersebut dapat memanfaatkan kemampuannya tersebut untuk menolong dirinya sendiri dimasa depan.

Gardner (dalam Amstrong, 1993) menyatakan ada banyak cara untuk menjadi cerdas dan ada banyak cara juga untuk belajar. Setiap orang mempunyai tujuh kecerdasan dan mempunyai kemampuan untuk mengembangkan setiap kecerdasan hingga tingkat kemahiran tertentu. Jangan menitik beratkan perhatian hanya pada salah satu kecerdasan saja. Tidak beda yang terjadi pada anak autisme. Mereka juga memiliki kesemuanya itu. Perkembangan anak autisme juga terus menerus berjalan dan tidak berhenti hanya sampai pada satu titik saja. Tapi yang sedikit berbeda pada mereka adalah mereka butuh untuk dituntun, diberi contoh step by step untuk melakukannya, sedangkan kita sebagai orang normal, seiring dengan waktu kita bisa mengenali dan melakukan itu dengan sendirinya, tidak harus dengan bantuan orang lain.

Jika kita tilik beberapa ciri-ciri kecerdasan berganda pada anak autisme yang telah dikemukakan sebelumnya, seakan-akan ada beberapa ciri-ciri kecerdasan berganda yang terdapat pada anak autisme lebih bersifat negatif untuk masyarakat disekitar kita, seperti cenderung senang membaui benda-benda atau makanan-makanan, senang atau mampu meniru perkataan orang lain, dan sebagainya. Tapi kita sebagai seseorang yang mengetahui tentang dunia psikologi pada umumnya ataupun sebagai seseorang yang mengerti dunia anak dengan autisme, baik bagi kita yang terjun langsung kelapangan maupun yang hanya mengetahui secara teoritis saja, yang dapat kita lakukan bukanlah atau tidak hanya “membenarkan” apa-apa yang tidak benar bagi sebagian masyarakat kita tentang potensi yang dimiliki anak autisme. Yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita memikirkan, mengarahkan dan mengajarkan kecerdasan tersebut agar nantinya dapat berguna atau bermanfaat seoptimal mungkin bagi anak tersebut bahkan bagi banyak orang disekitarnya, dengan tidak melupakan prinsip pengajaran dan pendidikan bagi anak autisme, yaitu: terstruktur, terpola, terprogram, konsisten, dan kontinyu. Selain itu untuk dapat mengajarkan anak autisme butuh suatu komitmen dan kesabaran serta keikhlasan yang tinggi, karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak autisme butuh waktu yang lebih dari pada anak normal biasa dan dilakukan dengan cara step by step yang merupakan salah satu usaha kita untuk memahami cara berpikir dan berbuat mereka. Mengajarkan anak autisme memang sangat melelahkan tapi dapat menjadi sangat memuaskan.


D A F T A R P U S T A K A

Amstrong, T. 1993. Seven Kinds of Smart: Menemukan dan meningkatkan kecerdasan anda berdasarkan teori Multiple Intellegence. PT.Gramedia Pustaka Tama :Jakarta

Gerdtz, J and Joel Bergman, MD. 1990. Autism a Practical Guide for Those Who Help Other. The Continuum Publishing: New York.

Kaplan, Harold I.,M.D., Benjamin J. Sadock, M.D. 1998. Comperhensive Text Book of Psychiatry, Vol 2, fifth ed, Williams & Wilkins, Baltimore

The ICD. 1993. 10 Classification of Mental and Behavioural Disorder, Diagnostic Criteria for Research. WHO: Geneva

Yatim, Faisal. 2003. Autisme:Suatu Gangguan Jiw Pada Anak-Anak. Pustaka Populer Obor: Jakarta

Deteksi Dini Penting Dilakukan. Kompas, 16 April 2006

Lingkungan Buruk Picu Kasus Autis. Kompas, 27 Oktober 2004. www. Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: