PEMAKNAAN TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL DALAM PROSES BELAJAR

PEMAKNAAN TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL

DALAM PROSES BELAJAR

Pendekatan Hermeneutik-Humanistik

(Ulasan Film)

Judul : Dangerous Minds

Pemeran Utama :

Produksi : Hollywood Picture

Dangerous Minds merupakan film yang dikembangkan berdasarkan alur cerita dalam buku “My Posse Don’t Do Homework“ karya LouAnne Johnson. Film ini bercerita tentang LouAnne Johnson (diperankan Michelle Pfeiffer), seorang mantan marinir yang menjadi guru Bahasa Inggris. Mengikuti mimpinya untuk terus mengajar, LouAnne terdampar di Parkmont High School, menjadi pengajar sekelompok anak muda cerdas, dengan sedikit atau tanpa pendidikan, yang cenderung menerima kegagalan sebagai warna hidupnya. LouAnne memilih untuk meraih kepercayaan dan membuat perubahan pada hidup mereka, dan mendorong dirinya sendiri serta anak-anak muda tersebut sampai ambang batas, dan belajar dengan hard lessons.

A. RINGKASAN CERITA

Cerita bermula dari diterimanya LuoAnne Johnson sebagai guru akademik yang bekerja penuh, di Parkmont High School. LouAnne, yang memiliki gelar B.A. dalam bidang sastra Inggris dan pengalaman sebagai humas, telemarketer, serta marinir, sebenarnya belum memiliki sertifikat mengajar. Dia berhenti dari praktek mengajar satu semester sebelum lulus, karena mengalami kegagalan rumah tangga dan bercerai dengan suaminya. Sehingga dia menerima dengan senang hati ketika Carla Nicholas, sang Wakil Kepala Sekolah menawarkan kepadanya posisi guru akademik kelas khusus, dengan gaji 24.700 dolar per tahun. LouAnne juga tidak berusaha mendengarkan Griffith, rekan kerjanya, yang mencoba memperingatkan tentang bagaimana anak-anak yang akan dihadapinya di kelas khusus.

Hari pertama mengajar LouAnne benar-benar tidak diacuhkan oleh anak-anak di kelas khusus. Anak-anak yang berasal dari ras yang beragam tersebut, masih tetap bernyayi, bercakap-cakap dan sibuk dengan urusan masing-masing. Ketika berusaha meminta perhatian, tetap saja dia diabaikan. Bahkan LouAnne harus menerima pelecehan dari Emilio Ramirez, murid yang paling berpengaruh di kelas tersebut, ketika berusaha bertanya tentang kenapa guru sebelumnya berhenti mengajar. Dan hari pertama berakhir dengan kemarahan dan rasa malu yang harus dibawa ketika LouAnne memutuskan untuk meninggalkan kelas.

Setelah semalaman membaca buku tentang mengajar dan mendapat masukan dari temannya untuk menarik perhatian murid-muridnya terlebih dahulu, LouAnne memutuskan untuk mengajari karate pada awal pertemuannya, dan memperkenalkan diri sebagai mantan marinir. Ketika dua orang muridnya Raul dan Durrel merespon ajarannya dan melakukan dengan baik, LouAnne memberikan nilai A untuk semua murid, dan harus di pertahankan sampai akhir tahun agar bisa lulus dari SMA.

Perhatian dan antusiasme ini yang kemudian digunakannya untuk mengajarkan jenis kata, konjugasi kata, makna kata dan makna kalimat. Topik yang dipilihpun berdekatan dengan apa yang sehari-hari harus dihadapi oleh murid-murid dengan lingkungan yang kental dengan kekerasan. seperti memilih, kematian, mengendalikan hidup dan memilih dalam menghadapi hidup dan kematian. Murid-muridnya mulai tertarik, Callie, Raul, Durrel, ternyata cukup cerdas menanggapi pelajaran yang diberikan. Keberhasilan pertama LouAnne diiringi peringatan keras dari kepala sekolah karena mengajarkan karate pada muridnya, walaupun dengan alasan untuk menarik perhatian sekalipun. LuoAnne harus mengikuti kurikulum.

LouAnne meneruskan usahanya mengajarkan tentang kata dan penggunaannya dengan memberikan coklat dan makanan kecil bagi mereka yang dapat menjawab atau menjelaskan dengan benar. Motivasi yang semakin terbentuk kemudian diperkuat dengan tantangan untuk memahami puisi. Bila mereka mampu membaca puisi, maka mereka dapat membaca apa saja. LouAnne memberi tugas untuk membaca dan memahami satu puisi dengan janji, bila mereka berhasil mereka semua akan di bawa ke arena bermain, dengan roller coaster dan permainan lainnya. Mereka tidak harus membayar sepeserpun karena didanai oleh Dewan Pendidikan (padahal semua dana berasal dari uangnya pribadi). Sekali lagi, LouAnne mendapat tantangan dari Emilio yang menganggap semuanya omong kosong, tantangan untuk menundukkan murid paling berpengaruh di kelasnya.

LouAnne memberikan puisi-puisi Bob Dylan yang berisi kehidupan jalanan dengan para pengedar narkotika dan kekerasan, serta kemampuan untuk memilih dalam memaknai hidup. LouAnne ingin mengajari mereka tentang makna hidup dengan menyentuh langsung kehidupan mereka. LouAnne sendiri sebenarnya sedang mencari makna hidupnya, trauma akan penyiksaaan suami, perceraian dan aborsi yang terpaksa harus dilakukan, membuat dia masih menutup diri untuk hubungan pribadi. Dan hal semangat murid-muridnya sebenarnya semangat juga bagi dirinya.

Masalah bertambah ketika Raul dan Gusmaro yang bertubuh kecil, berkelahi dengan Emilio yang bertubuh tinggi, besar dan kekar. LouAnne berusaha memisahkan mereka, tapi melakukan satu kesalahat fatal, mengatakan bahwa Emilio jauh lebih kuat dari Raul dan Gusmaro, dan tak pantas berkelahi dengan mereka. Perkelahian tetap terjadi, Raul dan Gusmaro yang mengeroyok Emilio diskors tiga hari, sedang Emilio mendapatkan peringatan keras.

LouAnne ingin membantu Emilio yang penuh kebencian, namun dia menolak bantuan tersebut. Hari itu juga LouAnne melakukan kunjungan ke rumah Raul. LouAnne menjelaskan pada orang tua Raul yang marah dan ingin memberikan hukuman tambahan pada anak tersebut, bahwa Raul tidak bersalah. Bukan dia yang memulai perkelahian. Bahkan Raul dikatakan sebagai salah satu murid favoritnya yang cerdas, lucu dan pandai bicara. Pernyataan yang mampu membuat Raul dan orang tuanya bangga dan terharu. LuoAnne melakukan kunjungan yang sama pada dua murid yang lain. Kunjungan yang akhirnya mendapatkan penghargaan yang baik, bahkan oleh Emilio. Sehingga dia mendapatkan dukungan dari Emilo ketika anak-anak lain dikelas menuduh mengadukan perkelahian tersebut. Bahkan Emilio mau bergabung dalam diskusi kelas, hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Berkali-kali LouAnne mengatakan bahwa anak-anak tersebut bukanlah korban, memilik hak untuk memilih dan mengatur apa yang akan dilakukan dalam hidupnya. Dan dia menyampaikannya selalu melalui media pembahasan makna puisi.

Setelah memenuhi janjinya mengajak anak-anak tersebut ke taman bermain, dan kembali mendapat teguran keras karenanya, LouAnne mengadakan Dylan-Dylan Contest, dengan hadiah makan malam dengannya di sebuah restoran mahal terkemuka. Kontes tersebut merupakan kontes mencari persamaan satu puisi karya Bob Dylan tentang kematian, dengan satu puisi Dylan Thomas. Kontes tersebut dimenangkan oleh Raul, Durrel dan Callie, namun semuanya mendapat hadiah untuk usaha yang telah dilakukan. Sayangnya, hanya Raul yang bisa pergi makan malam, karena kedua murid yang lain harus bekerja pada malam hari.

Masalah muncul lagi ketika Raul memutuskan untuk berhutang jas seharga 200 dollar kepada renternir untuk makan malam tersebut, dan harus mengembalikannya dalam beberapa hari. Raul berniat membolos untuk mencari uang, atau dia akan dibunuh. LouAnne, sekali lagi, menjadi dewa penolong dengan meminjami Raul uang yang dibutuhkan. Syaratnya, Raul harus bisa lulus dari sekolah, sebagai bayaran hutang, dan LouAnne menekankan bahwa Raul adalah orang yang bertanggung jawab terhadap janjinya.

LuoAnne juga menghadapi masalah ketika akhirnya tahu bahwa Callie, muridnya terpandai telah hamil dan memutuskan untuk keluar dari Parkmont, dan masuk ke Clearview, sekolah yang juga mengajarkan cara merawat bayi dan menjadi ibu muda yang baik. Walaupun akhirnya LouAnne tahu bahwa di sekolah tersebut sebenarnya tidak pernah ada larangan bagi siswi untuk hamil, seperti yang disangka oleh Callie, namun dia tak mampu mengubah keputusan Callie. Keputusan Callie didukung oleh ibunya, yang menganggap LouAnne sebagai wanita yang tidak suka laki-laki dan tidak suka pernikahan.

Murid-murid juga mulai ketagihan dengan hadiah setiap mempelajari puisi yang baru. Namun LouAnne mampu menanamkan bahwa belajar itu sendiri merupakan hadiah bagi mereka. Bisa membaca dan memahami sesuatu, tahu cara berpikir, dan mampu melatih proses berpikir adalah hadiah. Pikiran yang kuat harus dilatih terus, tiap kenyataan baru memberi pilihan yang lain, tiap pemikiran baru membentuk otot pikir yang baru, dan kita butuh otot-otot tersebut sebagai senjata dalam hidup kita.

Masalah lain muncul ketika Durrel dan Lionel, dua saudara kembar, keluar dari sekolah karena ibunya menganggap LouAnne telah meracuni mereka dengan puisi dan impian tentang masa depan yang tidak relistis dengan kehidupan mereka.

Goncangan terberat yang dirasakan LouAnne adalah saat dia tidak mampu menolong Emilio mengatasi permasalahan yang dihadapi. Emilio dituduh oleh murid Parkmont High School lain yang juga menjadi pengedar narkoba, merebut pacarnya. Emilio diancam akan dibunuh. LouAnne memberinya tempat menginap dan berhasil menyadarkan Emilio untuk tidak gelap mata dan melakukan pembunuhan sebelum dia sendiri di bunuh. Emilio disarankan untuk melaporkan kasus tersebut dan meminta perlindungan kepada Kepala Sekolah. Emilio mau melakukannya. Sayangnya, Emilio diusir oleh Kepala Sekolah hanya karena tidak mengetuk pintu, sebelum masuk kantor Kepala Sekolah. Di hari yang sama pengusiran yang dilakukan Kepala Sekolah, Emilio ditemukan tiga blok dari sekolahnya, dalam keadaan tidak bernyawa.

Kejadian tersebut membuat LouAnne terpukul dan memutuskan untuk berhenti mengajar pada akhir semester pertama. Namun demikian, murid-muridnya menyadarkan LouAnne tentang ajaran-ajarannya tentang memilih jalan hidup dan untuk tidak menyerah pada kegagalan. Di hari terakhir LouAnne mengajar, Callie yang telah memutuskan untuk masuk sekolah ke’’ibu’an, kembali dan menyadarkan LouAnne, bahwa semua murid-murid yang masih bertahan sangat membutuhkan LouAnne. Mereka membutuhkan kehadiran LouAnne untuk tetap bersama mereka untuk mewujudkan cita-cita dan jalan yang telah mereka pilih, untuk sekolah dengan serius.

LouAnne bersedia kembali, dan menemukan kembali semangatnya untuk bersama-sama mewujudkan apa yang telah dia mulai.

B. TINJAUAN TEORI

PSIKOLOGI HUMANISTIK ABRAHAM MASLOW

Abraham Maslow adalah peletak dasar dan “Bapak” yang telah membesarkan Psikologi Humanistik. Aliran Humanistik, disebut-sebut sebagai Mazhab ketiga dalam perkembangan psikologi ini, lahir sebagai reaksi atas teori-teori Behaviorisme (kental dengan sifat behavioristik, asosianistik dan eksperimental) dan Psikoanalisis (depth psychology dengan sifat klinis-pesimistik). Pemikiran Maslow bukanlah penolakan mentah-mentah terhadap karya para Freudian dan Behavioris. Melainkan lebih ke suatu telaah terhadap sisi-sisi yang lebih bermanfaat, bermakna dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan, yang kemudian menjadi titik tolak bagi pengembangannya.

Maslow memandang bahwa teori-teori yang berkembang sebelumnya tidak memecahkan masalah-masalah kemanusiaan secara menyeluruh. Behaviorisme tidak memberikan tempat yang sistematis bagi elemen-elemen “yang lebih tinggi” dari kepribadian, seperti altruisme, kecantikan dan pencarian kebenaran. Sedangkan psikoanalisis melihatnya dengan pendekatan yang “sinis” dan menganalisisnya dengan cara yang reduktif serta pesimistik. Freud dan kaum instingtif lainnya cenderung mengabaikan proses belajar secara asosiasi dan tingkah laku stimulus respon, sementara kaum behavioris secara dogmatis cenderung menolak segala bentuk naluri, baik ataupun buruk. Menurut Maslow, teori menyeluruh tentang tingkah laku manusia harus mencakup determinan internal (intrinsic behavior) dan determinan eksternal. Studi obyektif semata tentang tingkah laku manusia belumlah cukup, segi-segi subyektifnyapun perlu dipertimbangkan. Perasaan, keinginan, harapan, aspirasi individu harus dipertimbangkan dalam memperoleh pemahaman tingkah laku secara menyeluruh.

Teori Maslow menekankan pentingnya kesadaran akan perbedaan individu, dengan memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada taraf tertentu akan sampai pada penemuan diri. Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be). Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri anda, bagaimana menjadi diri anda, apa potensi yang anda miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang anda rasakan, nilai-nilai apa yang anda miliki dan yakini, kearah mana perkembangan anda akan menuju. Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain adalah memahami bagaimana anda menjadi manusia sama seperti manusia yang lain (persamaan dalam specieshood or humanness).

Konsep belajar Maslow menolak proses yang disandarkan pada generality of repetition dan learning by drilling. Pengajar bukanlah pengkondisi, pemerkuat dan boss bagi proses pendidikan individu, dengan menentukan apa yang baik baginya. Guru adalah pihak yang membantu individu membuka sisi-sisi dirinya yang belum mengemuka, mengenali apa yang dimiliki, berkembang dengan caranya sendiri, dengan kata lain, guru harus menerima individu apa adanya dan menolong memahami siapa dirinya. Sedapat mungkin pengajar mengarahkan setiap langkah pembelajaran kepada pengalaman puncak (peak-experiences), yang membuat individu menerima dan menikmati dirinya, perkembangan yang dia lalui dan aktualisasi dirinya.

Untuk memperkuat teorinya Maslow memaparkan beberapa konsep yang mendasarkan diri pada motivasi sebagai penggerak perilaku individu. Motivasi menggerakkan individu sebagai keseluruhan yang padu dan teratur, motivasi menggerakkan seluruh pribadi bukan sebagian dari pribadi. Sehingga setiap tindakan sadar tidak hanya memiliki satu motivasi penggerak.

Kebutuhan-Kebutuhan Dasar

Manusia dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah, dan berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan ini tidak semata-mata fisiologis, tapi juga psikologis. Berbeda dengan psikoanalisis yang melihat naluri memiliki sifat kuat, tidak bisa diubah dan jahat, kebutuhan dasar merupakan inti kodrat manusia yang lemah, mudah dibelokkan dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan dan tradisi yang keliru. Kebutuhan ini juga tidak bersifat jahat, namun netral, atau bahkan justru baik. Kebutuhan dasar memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Ketidakhadirannya menimbulkan penyakit.

2. Kehadirannya mencegah timbulnya penyakit.

3. Pemulihannya menyembuhkan penyakit.

4. Dalam situasi tertentu yang sangat kompleks dimana orang bebas memilih, orang yang sedang berkekurangan ternyata memilih kebutuhan ini dibandingkan jenis-jenis kepuasan lainnya.

5. Kebutuhan itu tidak aktif, lemah atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.

Kebutuhan dasar manusia dapat diatur dalam sejenis hierarki kekuatan yang bersifat relatif, karena manusia adalah mahluk yang berhasrat. Begitu suatu hasrat terpenuhi, segera muncul hasrat lain sebagai pengganti.

1. Kebutuhan fisiologis.

Kebutuhan manusia paling dasar, paling kuat dan paling jelas adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup secara fisik, seperti kebutuhan makan, minum, tempat berteduh, seks, tidur dan oksigen.Meskipun kebutuhan fisiologis ini dapat bertambah dan dapat dipilah-pilah, dikategorisasikan dengan lebih mudah daripada kebutuhan yang lebih tinggi, namun kebutuhan-kebutuhan tersebut tetap tidak dapat diperlakukan sebagai fenomena yang terpisah (misalnya, orang yang merasa lapar juga bisa merasakan kebutuhan kasih sayang atau rasa aman).

2. Kebutuhan akan rasa aman.

Muncul setelah kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya. Pada anak, rasa aman terpenuhi jika terdapat konsistensi dan kerutinan pada batas-batas tertentu. Kebebasan yang ada batasnya lebih disukai daripada serba dibiarkan sama sekali, dan hal tersebut dibutuhkan bagi perkembangan ke arah penyesuaian diri yang baik. Bagi orang dewasa kebutuhan akan stabilitas dan keteraturan lebih sedikit dan tidak berkaitan dengan soal hidup atau mati, seperti pada orang neurotik.

3. Kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki dan kasih sayang.

Kebutuhan akan cinta kasih berbeda dengan kebutuhan seksual, meski terdang terkait dengannya. Tanpa cinta pertumbuhan dan perkembangan kemampuan manusia akan terhambat. Terhalangnya pemuasan kebutuhan akan cinta merupakan sebab utama salah penyesuaian. Cinta menyangkut suatu hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. Dalam hubungan tersebut tidak ada rasa takut untuk terbuka terhadap kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan, yang seringkali menjadi penyebab rusaknya cinta.

4. Kebutuhan akan penghargaan.

Terdapat dua kategori kebutuhan akan penghargaan :

a. Harga diri, meliputi, kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan dan kebebasan.

b. Penghargaan dari orang lain, meliputi, prestise, pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, nama baik serta penghargaan.

Individu dengan cukup harga diri akan percaya diri, lebih mampu dan lebih produktif. Harga diri paling stabil dan sehat tumbuh dari penghargaan yang wajar dari orang lain, bukan nama harum dan kemasyhuran serta sanjungan kosong belaka.

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.

Aktualisasi diri adalah penggunaan dan pemanfaatan secara penuh bakat, kapasitas-kapasitas dan potensi-potensi, sehingga dapat memenuhi dirinya dan melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan. Kriterium negatifnya adalah ketiadaan kecenderungan-kecenerungan ke arah gangguan psikologis, neurosis dan psikosis.

Prakondisi Bagi Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Kondisi lingkungan sekitar dan kondisi sosial dalam masyarakat berkaitan dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow kondisi-kondisi yang merupakan prasyarat bagi pemuasan kebutuhan dasar meliputi kemerdekaan untuk berbicara, kebebasan yang bertanggung jawab, kemerdekaan untuk menyelidiki, kemerdekaan untuk mempertahankan diri, keadilan, kejujuran, kewajaran dan ketertiban. Ancaman terhadap prakondisi-prakondisi tersebut akan membuat individu memberikan reaksi sama seperti reaksinya menghadapai berbagai ancaman terhadap kebutuhan dasarnya sendiri. Dalam perbaikan teorinya Maslow menambahkan tantangan (stimulasi) sebagai prakondisi tambahan dalam lingkungan eksternal, karena secara bersamaan dan paradoksikan dalam diri manusi terdapat kecenderungan bawaan ke arah kemandekan dan kearah perkembangan atau aktivitas.

HERMENEUTIKA DALAM BELAJAR

Hermeneutika berasal dari kata Inggris hermeneutics, yang bersumber pada kata kerja Yunani hermenuo, yang berarti :

  1. pengungkapan pikiran yang abstrak ke dalam ungkapan-ungkapan yang jelas, dengan kata-kata dalam bahasa.
  2. penterjemahan dari bahasa ”asing” yang ”gelap” bagi kita, ke dalam bahasa kita sendiri.
  3. penafsiran pemikiran yang kurang jelas menuju yang lebih jelas.

Hermeneutik atau penafsiran tidak bisa lepas dari manusia, karena manusia selalu memakai lambang-lambang, khususnya bahasa, sehingga penafsiran akan selalu dilakukan secara terus menerus. Manusia tidak akan dapat membebaskan diri dari kecenderungan dasarnya untuk memberi makna.

Hermeneutika merupakan penafsiran terhadap teks, namun demikian penafsiran itu sendiri sebenarnya tidak bisa hanya bersifat tekstual, melainkan juga kontekstual.

Proses pemahaman bahasa, menjelaskan bagaimana hermeneutik terjadi. Bahasa terdiri dari unit-unit kecil, suku kata, yang terbentuk dari huruf-huruf. Untuk memberi makna pada suku kata harus terbentuk kata. Kata-kata dapat dipahami maknanya dalam konteks yang lebih luas, yaitu kalimat. Kalimat dapat dipahami dalam konteksnya yang lebih luas, gaya bahasa. Sampai pada tahap pemahaman paling mendalam adalah pemahaman pribadi, baik pribadi yang lain ataupun pribadi sendiri. Pengetahuan akan pribadi yang lain tidak dapat kita peroleh dengan sikap berjarak, pribadi lain dapat dipahami dengan perhatian dan keterlibatan. Lebih dari hal tersebut, pemahaman akan pribadi lain juga terpantul kembali pada kita secara introspeksi; dengan memahaminya kita tidak hanya mengenalnya tetapi juga mengenal diri kita sendiri. Proses timbal balik inilah yang membutuhkan partisipasi dan introspeksi (Palmer, 2003).

Pengenalan pribadi lewat bahasa, lisan maupun tulisan tidak dapat melepaskan konteks yang ada, lingkungan dimana pemaknaan terjadi, lingkungan fisik, sosial, psikologis dan budaya dari ”teks” yang dimaknai, dan juga lingkungan fisik, sosial, psikologis dan budaya dari individu yang memaknai. Pemaknaan terhadap suatu teks (wacana) bisa sangat berbeda hasilnya bila dilakukan oleh individu yang berbeda, dengan konteks lingkungan pribadi yang berbeda. Sebaliknya teks yang sama namun disampaikan oleh individu yangberbeda bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda pula.

Berkaitan dengan proses belajar Agustien (2005) menyatakan bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan perilaku berwicaksara. Perilaku berwicaksara merupakan gabungan dari kemampuan berwicara (oracy) dan beraksara (literacy). Berwicaksara berarti mampu menggunakan bahasa lisan dan tulis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berwicaksara merupakan suatu communicative competence (kompetensi komunikatif), perilaku yang dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup dalam masyarakat (Celce-Murcia et al. 1995).

Selaras dengan Model Kompetensi Komunikatif dari Celce-Murcia (1995), individu yang berwicaksara adalah individu yang memiliki discourse competence atau kemampuan berwacana, bukan sekedar mampu membuat kalimat-kalimat secara gramatikal. Dan untuk mencapai kompetensi tersebut, individu harus menguasai kompetensi kebahasaan (linguistic), kompetensi tindak bahasa (actional), kompetensi sosio-kultural (socio-culture) dan kompetensi strategi (strategic).

Berwacana, secara teknis, merupakan kemampuan menciptakan teks, sehingga perlu dipahami apa yang dimaksudkan dengan teks. Halliday (1985) mendefinisikan teks sebagai semantic unit, satuan makna yang bukan sekedar satuan grafologi yang berbentuk tulisan. Satuan makna juga bukan berarti satuan fonologi yang dapat didengar oleh telinga. Teks merupakan satuan makna dalam bahasa lisan maupun tulisan, tulisan dan bunyi yang tak bermakna, bukanlah teks.

Berkomunikasi, dengan menggunakan bahasa, adalah berpartisipasi atau terlibat dalam sebuah wacana (Halliday, 1985). Komunikasi tidak terjadi dalam kekosongan, melainkan dalam konteks situasi, konteks budaya dan wacana yang sedang menjadi sorotan (common concern). Oleh karena itu, untuk mencapai kompetensi komunikatif harus dimiliki kompetensi kebahasaan (misalnya, tata bahsa, kosa kata, bunyi dan intonasi), kompetensi tindak bahasa (misalnya, meminta/memberi informasi, mengundang dan membatalkan janji), kompetensi sosio-kultural (misalnya, kapan dan bagaimana menggunakan ungkapan tertentu), dan kompetensi strategis (misalnya, bagaimana mengatasi communication breakdown ketika berbincang-bincang).

C. PEMBAHASAN

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh LuoAnne penuh dengan usaha pemaknaan tekstual dan kontekstual dalam rangka mengembangkan potensi muridnya secara “manusiawi”. Pertama kali LouAnne gagal menjalin komunikasi dengan muridnya, karena datang sebagai “orang asing”. Namun, kemudian LouAnne berhasil menjadi bagian dari komunitas kelas tersebut, dan bersama-sama melaksanakan proses belajar-mengajar yang sesuai dan diterima oleh murid-muridnya.

Berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran analisis pembelajaran dapat dilakukan dengan mempertimbangkan :

1. Siswa :

Siswa yang dihadapi LouAnne dalam kelas akademik sangatlah berbeda dengan kelas biasa. Anak-anak tersebut sebenarnya bukanlah anak yang bodoh, namun mereka telah terjebak dalam pandangan yang negative tentang hidup mereka. Lingkungan yang cenderung miskin, kumuh, penuh dengan kekerasan dan terdiri dari berbagai macam ras, membuat anak-anak tersebut telah memandang hidupnya “gagal”. Mereka juga lebih banyak tertekan dengan berbagai keterbatasan dan kerasnya hidup, dengan sedikit pendidikan dan pembimbingan yang dapat memperluas cara pandang mereka. Sehingga mereka cenderung pasrah menghadapi tekanan lingkungan, memandang pendidikan tidak dapat menolong mereka untuk menghadapi tekanan tersebut. Mereka cenderung memandang hidup mereka tidak “bernilai” . Secara umum kelas yang ditangani oleh LouAnne :

a. terdiri dari siswa-siswa yang cukup cerdas dan mempunyai potensi yang dapat dikembangkan secara positif.

b. mempunyai masalah sosial (behavior disorder), sebagai manifestasi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar secara penuh.

c. membutuhkan

”pelayanan” khusus untuk pemenuhan kebutuhannya.

perhatian dan bimbingan dalam ”menemukan” diri, memahami diri dan menemukan makna hidupnya.

arahan untuk menemukan potensi khusus (keunikan) yang dimiliki sebagai ”senjata” baginya untuk mencapai aktualisasi diri, serta menggunakan konteks lingkungan yang dihadapi sebagai tantangan, bukan penghalang dalam proses learning to be.

Bimbingan untuk menyadari, memahami dan membangun wacana, dengan kemampuan berwicaksara, untuk mendukung pengembangan potensi yang dimiliki.

2. Guru :

Sebagai pengajar, LouAnne berusaha menerima dan memandang tingkah laku serta keadaan muridnya bukan sebagai suatu yang salah, namun sesuatu yang membutuhkan perbaikan dan arahan menuju yang lebih baik.

a. Menerima dan menghargai sisi positif siswa sebagi titik tolak pembelajaran

b. Menghargai kebutuhan individual tiap anak (individual differences)

c. Mendorong anak untuk memandang hidupnya secara positif dan bermakna menuju aktualisasi diri.

d. Melaksanakan tugas dengan tulus dan menerima keadaan siswa sebagaimana adanya, hal ini terkait pula dengan upaya menemukan arti hidupnya sendiri.

3. Materi :

Disesuikan dengan kebutuhan terdekat anak.

a. awal pembelajaran dimulai dengan bela diri/karate, hal ini sesuai dengan pola hidup anak yang terbiasa dengan kekerasan, sehingga mampu menarik perhatian, dan merupakan langkah awal untuk menjalin komunikasi guru-siswa dalam pembelajaran.

b. teks puisi yang diberikan dalam pembelajaran bahasa inggris membuat anak santai dalam proses pembelajaran, hal ini sesuai dengan pola hidup anak yang ingin kebebasan, adalah memudahkan anak untuk terlibat dalam setiap kali pembelajaran.

c. materi pembelajaran selalu dihubungkan dengan konteks kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan anak mencerna dan mampu membangun kesadaran serta menemukan makna hidupnya.

d. dengan materi tersebut siswa mudah memahami teks pembelajaran secara bermakna, membangun penemuan diri, secara kontekstual mengembangkan keterampilan hidup, yang mengarahkan anak untuk mengaktualisasikan diri dalam kehidupan sehari-hari.

4. Metode :

a. Ceramah, memberikan pencerahan pada anak terhadap materi yang akan disampaikan, sehingga anak dapat menangkap arti dari materi yang disampaikan. Ini merupakan awal membangun motivasi.

b. Tanya jawab: untuk memudahkan memahami sejauh mana pengetahuan anak terhadap materi, sebagai dasar untuk memahami kebutuhan anak lebih lanjut.

c. Kerja Kelompok: untuk membangun kerjasama (cooperative learning), yang sangat diperlukan pada siswa yang memiliki behavior disorder.

d. Home visit oleh guru : anak dan keluarga merasa dihargai sebagai manusia, mendapat dukungan pihak lain/keluarga, agar anak dapat diterima sebagaimana mestinya.

5. Media :

Kumpulan puisi Bob Dylan dan Dylan Thomas yang terkait dengan konteks kehidupan anak, membantu membangun kebermaknaan dalam hidup

6. Penilaian dan Penghargaan :

a. Didasarkan pada keterlibatan anak secara penuh dalam pembelajaran.

b. Kemampuan anak memaknai teks dan aplikasi pada konteks kehidupan sehari-hari.

c. Dimaksudkan agar tumbuh motivasi dan kesadaran secara internal untuk terus belajar.

d. Pemberian penghargaan atas keberhasilan-keberhasilan murid dalam melaksanakan tugas, yang akan mendorong mereka terus berusaha mengembangkan diri.

e. Pemberian penghargaan disertai dengan pengertian bahwa yang paling penting dan berarti adalah keberhasilan proses belajar dari murid sendiridan kesadaran bahwa keberhasilan itu sendiri merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

7. Lingkungan :

a. Lingkungan sekolah, dengan kebijakan sekolah yang dapat menampung /menerima anak-anak dengan gangguan perilaku, merupakan bentuk penghargaan pada anak yang masih membutuhkan sarana untuk belajar.

b. Lingkungan sekolah yang cukup besar dengan sarana yang memadai, dan kurikulum yang tepat dan memberikan ”kebebasan” anak untuk mengembangkan dirinya, akan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri.

Perlu disadari bahwa perubahan yang mendasar memerlukan adanya penentuan standar, assessmen kelas dan integrasi kurikulum (Andy, H,. et.al., 2001). Proses-proses perubahan membutuhkan the intellectual work of change, the emotional work of change dan supporting and sustaining change menuju learning change.

Oleh karena itu, keselarasan seluruh komponen pembelajaran dalam mendukung proses pengembangan dan aktualisasi diri anak, sangat diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Andy, H.,Lorna, E.,Moore, S., & Manning, S. 2001. Learning to Change. San Fransisco: Jossey-Bass. A Willey Company

Agustien, Helena I.R. 2005. Pendidikan Menuju Kemandirian : Esensi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah. Disampaikan dalam Seminar Nasional Identifikasi Mutu Pendidikan Untuk Meningkatkan Kualitas dan Ketahanan Bangsa. Semarang : UNIKA Soegijapranata.

Celce-Murcia, M., Dornyei, Z., & Thurrell, s. 1995. Communicative Competence : A Paedagogically Motivated Model with Content Specifications. Issues in Applied Linguistics 6/2, 5 – 35.

Goble, Frank G. 2002. Mazhab Ketiga : Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Terjemahan : Drs. A. Supratinya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Halliday, M.A.K. & Hasan, R. 1985. Language Context and Text : Aspects of Language in Social – Semiotic Perspective. Victoria : Deakin University Press.

Maslow, A. 1975. Some Educational Implications of Humanistic Psychologies. Dalam Four Psychologies Applied to Education. Editor : Thomas B. Robert. Massachusset : Schenkman Publisher Company.

Palmer, E. Richard. 2003. Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

1 Comment »

  1. prastika20 said

    hehe….. 2 thumbs up

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: